Senin, 21 Januari 2013

tradisi tindik telinga

TRADISI Tindik Telinga

Tindik ternyata tidak hanya dikenakan oleh perempuan saja, para pria pun mengenakannya. Tidak hanya di zaman modern ini, namun sejak jaman dahulu kala para pria pun sudah mengenakannya sebagai ritual adat. Oleh karena itu, tak perlu heran lagi bila melihat para pria mengenakan anting atau perhiasan lain yang disematkan pada tubuh mereka.
Seni menindik tubuh ini sebenarnya sudah dikenal sejak berpuluh abad yang lalu, hampir di seluruh dunia. Dalam catatan sejarah, suku-suku primitif melakukan tindik sebagai bagian dari ritual adat dan penunjuk identitas derajat sosial. Para arkeolog bahkan menemukan mumi manusia yang berasal dari 5 ribu tahun yang lalu memiliki tubuh yang ditindik.

Para peneliti juga menemukan tindik tubuh yang berkaitan dengan peradaban kuno, Aztec dan Maya. Ditemukan bahwa suku Aztec menindik lidah mereka sebagai sebuah ritual spiritual yang diyakini dapat mendekatkan mereka kepada Tuhannya. Prajurit suku tersebut pun menindik hidung mereka dengan taring babi hutan sehingga menghasilkan lubang yang besar pada hidung, sebagai tujuan untuk mengintimidasi anggota suku lainnya.

Suku Indian melakukan body piercing dengan cara menggantungkan kait besi di bagian dada mereka. Ritual yang disebut “okipa” ini diperuntukkan bagi pria yang akan diangkat menjadi tentara atau panglima perang. Sementara sebuah suku di Negara India melakukan ritual dengan menusukkan tubuh dengan jarum yang panjangnya hingga mencapai 1 meter untuk menghormati sang dewa. Ritual yang bernama “kavandi” ini biasa digelar pada bulan Februari.

Di Indonesia sendiri, tradisi tindik tubuh biasa dilakukan oleh suku Asmat dan suku Dani di Papua. Pria Asmat menusuk bagian hidung mereka dengan batang kayu atau tulang belikat babi sebagai tanda bahwa mereka telah memasuki tahap kedewasaan.
Suku Dayak di Kalimantan mengenal tradisi penandaan tubuh melalui tindik di daun telinga sejak abad ke-17. Tak sembarangan orang biasa menindik tubuhnya, hanya pemimpin suku atau panglima perang yang mengenakan tindik telinga. Sedangkan untuk kaum perempuan Dayak, mereka mengenakan anting pemberat untuk memperbesar cuping telinganya. Menurut kepercayaan mereka, semakin besar pelebaran lubang daun telinga, semakin cantik dan tinggi pula status sosial masyarakatnya. Model primitif inilah yang kemudian banyak ditiru oleh komunitas piercing di dunia.
Oleh kalangan punk atau gerakan pasca-modern seperti grunge dan alternative, tindik tubuh dapat menjadi simbol pemberontakan atas kemapanan. Masih ada lagi berbagai sejarah lainnya mengenai penindikan tubuh ini dalam berbagai budaya di seluruh dunia.
Tindik tubuh merupakan hiasan yang disematkan pada tubuh manusia, benda yang digunakan biasanya terbuat dari tulang, gigi, atau tanduk binatang. Namun, pada masyarakat modern, piercing lebih banyak menggunakan bahan logam.

Bagian tubuh yang disematkan tindik yang paling banyak dikenal oleh kalangan masyarakat adalah di bagian bawah daun telinga, perhiasan yang disematkan di bagian tubuh tersebut biasa dinamakan dengan anting-anting. Praktik ini umumnya diterapkan oleh banyak budaya, dan perempuan yang mengenakannya secara umum dapat diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, perempuan yang sedang atau sudah beranjak dewasa biasa mengenakan anting untuk mengasosiakan kewanitaannya.
Bagian tubuh lainnya yang juga agak umum adalah pada bagian hidung, dagu, bibir bagian bawah, kening, dan sekitar pusar. Posisi penindikan yang dianggap ekstrim oleh sebagian orang, karena rasa sakit saat pembuatan lubang dan penyembuhan, adalah pada lidah, pipi, bahkan putting susu dan bagian kemaluan. Untuk posisi terakhir ini biasanya dimaksudkan untuk alasan kepuasan seksual.

0 komentar:

Poskan Komentar